Evaluasi Sistem Rating Game Nasional: Komdigi Soroti Kelemahan IGRS di Tengah Kontroversi Steam

Evaluasi Sistem Rating Game Nasional: Komdigi Soroti Kelemahan IGRS di Tengah Kontroversi Steam

cerita gaming – Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi kembali menjadi sorotan publik setelah muncul polemik terkait sistem penilaian usia game di platform Steam. Isu ini memicu perhatian luas, terutama dari kalangan gamer, pengembang, hingga orang tua yang mengandalkan sistem rating sebagai acuan dalam menentukan kelayakan konten bagi pengguna di berbagai usia.

Menurut google.com menanggapi hal tersebut, Komdigi menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Indonesian Game Rating System (IGRS), yang selama ini menjadi standar nasional dalam klasifikasi game di Indonesia.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, menjelaskan bahwa IGRS sebenarnya telah dirancang dengan mekanisme verifikasi berlapis. Sistem ini mengandalkan metode self-assessment dan self-declaration yang dilakukan langsung oleh pengembang atau publisher game.

Secara teori, pendekatan ini memberikan fleksibilitas sekaligus efisiensi dalam proses klasifikasi. Namun dalam praktiknya, ditemukan sejumlah celah yang menyebabkan ketidaksesuaian rating, terutama ketika game yang tersedia di Steam menunjukkan klasifikasi yang dianggap janggal atau tidak konsisten.

Akar Masalah: Ketergantungan pada Self-Assessment

Salah satu poin utama yang disoroti oleh Komdigi adalah ketergantungan sistem IGRS terhadap kejujuran dan ketelitian pengembang. Dalam skema self-assessment, developer diminta untuk menilai sendiri konten game mereka berdasarkan panduan yang telah ditentukan. Sementara itu, self-declaration mengharuskan publisher menyatakan bahwa informasi yang diberikan sudah sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Masalah muncul ketika interpretasi terhadap konten tidak selalu seragam. Misalnya, elemen kekerasan, bahasa kasar, atau konten sensitif lainnya bisa dinilai berbeda oleh masing-masing developer. Tanpa pengawasan ketat atau audit berkala, potensi kesalahan menjadi semakin besar. Hal ini diperparah dengan banyaknya game indie atau developer kecil yang mungkin belum sepenuhnya memahami standar klasifikasi yang berlaku di Indonesia.

Baca juga : Ben Starr Kritik Tren Adaptasi Game ke Live Action: Industri Dinilai Tak Perlu “Alih Wujud”

Dampak terhadap Pengguna dan Industri

Ketidaksesuaian rating bukan sekadar masalah administratif, melainkan memiliki dampak nyata terhadap pengguna. Orang tua, misalnya, sangat bergantung pada sistem rating untuk memastikan anak-anak mereka tidak mengakses konten yang tidak sesuai usia. Jika sistem ini tidak akurat, maka fungsi perlindungan tersebut menjadi lemah.

Selain itu, gamer sendiri juga bisa dirugikan. Rating yang tidak tepat dapat menimbulkan ekspektasi yang salah terhadap suatu game. Sebagai contoh, game yang seharusnya diperuntukkan bagi usia dewasa bisa saja diberi label lebih rendah, sehingga memicu kontroversi setelah dimainkan. di kutip tribunnews.com

Tantangan di Era Digital Global

Evaluasi IGRS tidak bisa dilepaskan dari konteks globalisasi industri game. Platform seperti Steam telah mengubah cara distribusi game, dari yang sebelumnya berbasis fisik menjadi sepenuhnya digital. Hal ini membuat batasan geografis menjadi semakin kabur.

Indonesia, sebagai salah satu pasar game terbesar di Asia Tenggara, harus mampu menyesuaikan regulasinya dengan dinamika global. Sistem rating yang terlalu kaku bisa menghambat masuknya game internasional, sementara sistem yang terlalu longgar berisiko membiarkan konten yang tidak sesuai beredar bebas.

Di sinilah pentingnya menemukan keseimbangan antara fleksibilitas dan pengawasan. IGRS perlu tetap relevan dengan standar internasional, namun juga mampu mencerminkan nilai-nilai lokal yang menjadi dasar perlindungan konsumen di Indonesia.

 

Kesimpulan

Polemik rating game di Steam telah membuka mata banyak pihak tentang pentingnya sistem klasifikasi yang andal. IGRS, sebagai sistem nasional, memiliki peran strategis dalam melindungi pengguna sekaligus mendukung pertumbuhan industri game di Indonesia.

Evaluasi yang dilakukan oleh Komdigi bukan hanya sekadar respons terhadap isu sesaat, melainkan langkah penting untuk memperkuat fondasi ekosistem digital nasional. Dengan perbaikan yang tepat, IGRS berpotensi menjadi sistem rating yang tidak hanya relevan di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di kancah global.

By Sean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *