cerita gaming – Isu regulasi industri game di Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat setelah salah satu perwakilan dari Riot Games menyampaikan kritik terbuka. Pernyataan ini bukan datang dari pihak sembarangan, melainkan dari Nic McConnell, yang menjabat sebagai Manager Age Rating di perusahaan tersebut.
Komentar ini langsung menarik perhatian karena menyangkut sistem klasifikasi usia game di Indonesia, yaitu IGRS, serta peran Komdigi dalam mengelolanya. Kritik tersebut membuka diskusi lebih luas tentang kesiapan infrastruktur digital Indonesia dalam mendukung industri game global.
Latar Belakang: Sistem Rating Game di Indonesia
Sistem IGRS dibuat untuk memberikan klasifikasi usia pada game yang beredar di Indonesia. Tujuannya jelas: melindungi pemain, terutama anak-anak, dari konten yang tidak sesuai usia. Dalam praktiknya, setiap pengembang atau publisher yang ingin merilis game secara resmi di Indonesia harus melalui proses penilaian ini.
Namun, seiring berkembangnya industri game yang semakin kompleks dan global, sistem ini dituntut untuk lebih modern, cepat, dan aman. Di sinilah kritik mulai muncul—terutama dari pelaku industri internasional yang sudah terbiasa dengan sistem otomatis dan terintegrasi.
Baca juga : Kontroversi Rating Game di Steam: IGRS Mendadak Hilang Usai Banjir Kritik Gamer Indonesia
Kritik dari Riot Games: Masalah Infrastruktur dan Keamanan
Menurut Nic McConnell, salah satu masalah utama dalam sistem IGRS adalah prosesnya yang masih terlalu manual. Ia menyoroti bahwa verifikasi materi game sering kali dilakukan melalui platform pihak ketiga seperti Google Drive.
Pendekatan ini dianggap berisiko tinggi, terutama bagi perusahaan besar seperti Riot Games yang mengelola berbagai judul populer seperti Valorant dan League of Legends. di kutip tempo.co
Perbandingan dengan Sistem Global
Di banyak negara lain, sistem rating game sudah menggunakan platform digital terintegrasi. Prosesnya biasanya melibatkan:
- Portal khusus yang aman
- Upload file dengan enkripsi tinggi
- Sistem otomatis untuk klasifikasi awal
- Verifikasi cepat oleh tim profesional
Dengan sistem seperti ini, pengembang tidak perlu khawatir soal keamanan data. Selain itu, prosesnya juga jauh lebih cepat dan efisien.
Kritik dari Riot Games secara tidak langsung menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal ini. Padahal, sebagai salah satu pasar game terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh.
Kesimpulan
Pernyataan dari Nic McConnell membuka mata banyak pihak tentang kondisi sistem rating game di Indonesia. Kritik terhadap IGRS dan proses yang masih manual menunjukkan bahwa masih ada banyak ruang untuk perbaikan.
Di tengah pesatnya perkembangan industri game global, Indonesia tidak bisa tertinggal. Sistem yang aman, efisien, dan modern bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
